Selasa, 23 Oktober 2012


Pelosok:Tempat Strategis Untuk Dakwah

Mutawakil Alallah*
               

A
pakah antum tinggal di kota? Jikalau jawabannya memang iya, maka antum pasti tahu dai-dai yang sering berdakwah di kota antum. Kalaupun memang tak ada sama sekali dai yang sering memberikan tausyiah di kota antum itu, toh di rumah antum masih ada televisi dan radio yang menyajikan sajian dakwah di dalamnya. Dan jika saluran-saluran di televisi antum tersebut juga tidak memberikan tayangan dakwah satupun, dan radio antum sudah tak ada saluran yang menyiarkan siraran dakwah, walau tangan sampai lelah memutar knop radio, dan telinga pun lelah karena harus memastikan bahwa yang kita dengar adalah siaran dakwah. Maka bisa dibilang antum berada di lingkup daerah yang mayoritas masyarakat di lingkup itu 99% kafir.
Apakah antum orang desa? Atau antum adalah seseorang yang tinggal di sebuah perkampungan? Jika iya, maka pastinya di desa itu ada kemungkinan sejumlah orang yang mahir dalam bidang agama, walaupun hanya seorang dari warganya. Jika tak ada seorang pun yang pintar dalam urusan agama di lingkup desa antum, maka seperti halnya kota tadi desa antum adalah desa yang 99% gersang penduduknya. Yang bersedia menyediakan sesajen di hari-hari tertentu untuk menghormati arwah nenek moyangnya. Atau hanya memuja matahari untuk mereka anggap tuhan.
Nah, jika antum memang berada ditempat-tempat yang saya sebutkan tadi, naudzubillah himindzalik. Tapi patut disyukuri karena kita khususnya saya saat ini berada dalam linngkungan yang islami, tarbawi dan ma’hadi.
Jika ada yang kebingungan dalam mencari posisi da’wah yang strategis maka jawabnya ada pada baris yang paling awal (judul) . Karena  tempat yang pelosok memiliki keistimewaan tersediri bila diberi sajian da’wah.
Dimana saja tempatnya kalau ingin senang harus susah dulu. Jadi ketika pertama kali pijakan kaki disana, otomatis orang itu akan menolak ajaran tersebut, kecuali pendakwah menyuntikkannya dngan perlahan-lahan seperti yang dilakukan oleh nabi Muhammad SAW pada umatnya dan juga seperti Wali Songo di Indonesia. Dan mengikuti cara yang dilakukan oleh Wali Songo yan bersumber dari Rosululloh SAW.
Tapi sisi positif dari itu adalah  apabia orang-orang sudah mengikuti si pendakwah, maka si pendakwah bisa mendapatkan pahala orang yang mengajak masuk menuju Islam. Dan tidak sampai situ saja, karena pendakwah yang mengajak mereka pada suatu jalan, maka kita harus bertanggung jawab atas perbuatan itu. Sang dai harus mendidik dan mengajak masyarakat agar masyarakat tak kecewa dan mampu mengikuti apa yang dikatakan dai. dan itu adalah mujahid sejati yang takkan berhenti sampai mati. Diapun juga menjalankan perintah Allah untuk berjhad dengan harta dan diri. Dengan harta adalah sebagai sangu ke pelosok. Dengan diri atau nafs adalah yang mendominasi yaitu diri dai yang dipakai untuk menyempurnakan ajaran.
*Santri kelas lll Intensif A,  asal Sidoarjo



Sikap dan Fokus

Fahrul Rozi*


S
etiap manusia dilahirkan ke dunia ini dilengkapi dengan karakter dan gen masing-masing.  Dan gen ini memiliki cara yang lain yang mungkin membantu pemikir sejati mnium peluang. Walaupun lebih tidak langsung, bagaimana caranya, cara tersebut adalah tetap fokus kedepan dan memiliki pandangan kedepan dan memiliki pandangan optimis. Ketika memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap kemampuan yang dimilikinnya  sejatinya manusia itu secara tidak langsung mengajarkan kepada  dirinya bagaimana seharusnya dia itu bersikap dan bertindak.
Keterbatasan yang terdapat pada peluang untuk menuju gerbang kesuksesan merupakan sebuah tantangan yang harus ditaklukkan untuk dapat mengenali jati dirinnya. Namun semua itu tidaklah mudah untuk mencapai menjadi insan sempurna perlu dibutuhkan persiapan yang lebih matang lagi dan mmendekati pintu kesuksesan itu. Dan semua itu hanya bisa  di atasi dengan cara tetap fokus dalam menghadapi rintangan-rintangan yang datang menghadang.
Sikap percaya terhadap diri sendiri  sangatlah penting untuk membuka gerbang-gerbang penhalang kesuksesan. Oleh karena itu  Allah SWT memberikan senjata yang agung yang diberikan kepada manusia sejak lahir untuk dapat dimanfaatkan secara optimaldan maksimal dalam mengaruungi kehidupann yang penuh dengan cobaan dan rintangan. Coba saja bayangkan apabila hidup ini tidak disertai dengan cobaan apa jadinya hidup ini. Kesenangan dalam mengambil sikap untuk menjadi pribadi tangguh sangatlah dibutuhkan dalam mengarungi kehidupan di dunia ini.
Pandangan yang lebih positif akan memperluas ruang pikir untuk memperluas terobosan keberuntungan potensial. Saat semua itu bisa dijalani dengan lancer maka berbahagialah karena anda telah berhhasil membentuk karakter yang terdapat dalam diri setiap manusia. Pernahkah kehidupan anda menemukan rintangan yang sulit untuk anda pecahkan, lalu langkah apakah yang telah anda perbuat? Jika memang betul maka jangan takut jalanilah karena setiap permasalahan apabila dilalui dengan ketenangan akan berakhir dengan kesenangan tanpa diakhiri dengan penyesalan.
Kemampuan dalam mengambil sikap ketika menghadapi permasalahan dan cobaan untuk focus merupakan pilihan yang harus mau tidak mau harus dilakukan untuk menciptakan hidup yang penuh dengan imajinasi dan inovasi-inovasi baru.
Ketika terlintas dalam otak anda sebuah gagasan baru maka, segeralah aplikasikan menjadi sebuah pokok pemecahan permasalahan yang terjadi dalam kehidupan. Sadarilah apa saja yang terlintas dii otak anda merupakan sebuah ilmu yang baru untuk dapat mengenali lebih dalam lagi siapakah sejatinya diri anda itu? Manusia dituntut untuk selalu dapat memanndang hidup kedepan dan memfokuskan pikiran kedepan. Ketangkasan dalam mengambil sikap.
Cobaan di hadapkan kepada kita ini sebenarnya untuk apa? Mungkinkah untuk menjadi tolak ukur kadar kualitas manusia di hadapan tuhan atau karena apabila hidup ini dilalui tanpa cobaan maka hidup ini tidak aka nada rasanya. Kalau diibaratkan bagaikan sebuah sop, atau kuah sop yang tidak diberi garam, maka akan terasa hambar tak ada rasa bila dimakan. Tidak nikmat, begitu pula dengan sejatinya kehidupan ini. Hidup ini akan terasa hambar apabila tidak ada cobaan yang menghampiri kehidupan manusia. Dan apa jadinya apabila hidup manusia di dunia ini berjalan dengan lurus? Apakah yang terjadi dengan peradaban manusia?
Berpikir maksimal ditujukan agar dapat menimbulkan sebuah gagasan baru dan di sini dibutuhkanlah ketepatan dalam mengambil sikap.  Ketegasan dalam mengambil sikap akan mempermudah manusia menjadi pribadi yang tangguh dalam menghadapi lika-liku kehidupan di dunia ini.
*Santri kelas lll Intensif A,  asal Prenduan.


HixmachMencoba yang Update
Abdil Ghufron*

T                  
ahun ajaran baru sudah dimulai sejak tanggal satu September yang lalu, serba-serbi update dapat kita temui dengan dhohir baju baru, celana baru, kopyah baru, mungkin juga ketua shof baru, dan juga dengan buletin yang kita pegang kini juga bisa dibilang baru di tangan kita. Senja, dilirik dari nama saja sudah bisa direka bahwa nama ini sudah lama dirilis. Betul sekali, tepatnya tiga tahun yang lalu, nama ini sudah ada dan tetap dipertahankan hingga saat ini.
Periode pertama buletin senja ini dirintis oleh kakak angkatan 37, selama mereka masih duduk di bangku kelas tiga Intensif. Setelah mereka naik ke kelas lima, lalu buletin Senja ini pun diturunkan kepada adik kelas setelah mereka, begitu pun seterusnya. Hingga saat ini bulletin senja ini turun kepada kita angkatan 40.
kata update bila kita tinjau dari kamus bahasa Inggris karangan Jhon Echols berarti memperbaharui. Istilah update bisa bermakna luas, jika digabungkan dengan kata yang lain. Missal: Update Status. Bagi anda para Facebookers kalimat itu sudah lumrah di telinga, setiap hari bahkan setiap jam anda melakukan aktivitas itu. Yang bisa di akses dari FB anda sendiri.
Istilah update kini juga berkaitan dengan pondok kita rupanya. Diubahnya atau diubahnya kepengurusan Dewan Riasah, Majelis A’wan dan dewan MPO yang diperbaharui.
Berbeda dengan tahun kemarin, kini sebagian sistem dan program pendidikan di pondok mengalami perubahan yang sangat signifikan, seperti diwajibkannya seluruh santri untuk mengikuti dua kelompok minat (kompil B), kegiatan komdas B juga semakin diperbanyak, yaitu empat hari dalam seminggu, yang diikuti oleh seluruh santri mulai dari kelas satu sampai kelas lima. Itu semua diadakan agar seluruh waktu kosong diisi dengan hal-hal positif. Dan diperlambatnya nida’ naum menjadi pukul 21.00.
Pembaharuan terus dilancarkan, hampir dari sebagian hkegiatan edukasidan non edukasi. Terobosan-terobosan dan ide-ide, terus diciptakan untuk meningkatkan tingkat intelektualitas santri, peningkatan mutu bahasa asing demi kemajuan masa depan pondok kita ke depan.   
Bukan sekedar basa-basi maupun update status sebagaimana biasanya. sekarang bagaimana kita meng-update hidup kita ke arah yang lebih baik. Dengan itu, pasti kita mampu untuk menupdate hidup kita.
Ketika membahas perihal tadi, saya jadi teringat suatu makna ayat Al Qur’an berbunyi: Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu mampu mengubah nasibnya (kaum itu) sendiri.
Sesuai dengan misi pondok kita yaitu mendidik dan mempersiapkan SDM berkualitas dan mundzirul qoum. Sebagai misi yang begitu baik dan mulia. Apakah kita sudah mampu menjadi SDM berkualitas dan mundzirul qoum? Sebagai seorang santri, untuk mencapai SDM berkualitas atau mundzirul qoum memang tidak mudah perlu keyakinan, komitmen dan pengorbanan diri.
Ironinya, setelah santri diberi kesempatan dan kemudahan untuk mengembangkan potensi, kita malah menyalah gunakan kesempatan itu. Dan semakin meningkatnya pelanggaran-pelanggaran di kalangan santri dalam segala bidang disiplin.
Apakah mungkin pondok kita setahun, dua tahun, empat tahun, ataupun sepuluh tahun kedepan keadaan ini akan berubah? Semua insan meski professor pun tak akan mampu memprediksikan keadaan pondok kita dimasa yang akan datang. Wallahu a’lam bis showwab.
 *Santri kelas lll Intensif A,  asal Bondowoso.



SiklusBangkit dari kekalahan panjang
Bintang Meigi*

A
ku tak pantas hidup, lebih baik aku jadi  cacinng tanah.”

Sebelum hidup  lama di tanah, kita sosialisasikan dulu kehidupan di atas tanah. Dengan niat hidup di tanah secara tidak langsung, kita menimbulkan niat untuk mati dan terpendam dalam waktu yang bisa dibilang tidak sekejap mengedipkan mata. Mengapa, orang yang semangat hidupnya kecil selalu berharap mati saja? Dan bagaimana cara yang paling efektif untuk meminimalisir hal-hal yang sangat  merugikan itu? Mari kita simak penjelasan di bawah.
Terllebih dahulu mari kita katakan bahwasanya kita memiliki skill, potensi, atau kelebihan yang telah tertanam dalam diri kita. Sebelum dan sesudah hidup yang telah dipersilahkan tuhan untuk kita jalankan sebagaimana kemampuan kita mengaturnya. Tuhan telah memberikan kita dua jalan, jalan panjang dan berkelok tapi buahkan kenikmatan kala kita sampai di tujuan. Jalan lurus, pendek dan  dekat tapi ketika sampai ke jurang penderitaan yang teramat  panjang. Benar adanya takdir,  namun bukan berarti tak ada harapan untuk merubbah hidup. Memang yang menentukan alur dari kehidupan kita adalah takdir, tapi dengan usaha dan doa yang kita perbuat  bukan tidak mungkin kita putar arah takkdir itu hingga 180 derajat kearahh yang berseberangan.
Ada sebuah kisah tentang protesnya malaikat kepada tuhannya,  “ya tuhanku mengapa engkau tak kabulkan doa orang yang sedang menangis memohon kepadamu itu? Tapi malah meramat mudah kau kabulkan permohonan manusia yang jahat dan durjana itu? Sungguh Engkau yang Maha mengetahui ya Tuhanku.”  Tuhan pun menjawab pertanyaan  Malaikat. Ketahuilah Malaikat, aku suka mendengar manusia itu bersujud menangis kepadaku,  serta tak ada hentinya berusaha, dan panjatkan doanya padaku. Sebaliknya aku malas mendengar doa orang kikir itu ku kabulkan do’a nya agar  cepat berlalu.”  Kemudian setelah puas hati sang malaikat mendengar ucapan tuhannya, ia pun bergegas.
Dari cerita di atas menandakan sebuah perjuangan seorang manusia dalam rangka menggapai apa yang menjadi keinginannya.  Tebing setinggi apapun pasti ia tanjaki. Sedalam-dalamnya samudera pasti dia akan berusaha untuk menyelami. Sesungguhnya tuhan maha tahu atas seberapa besar usaha hambanya untuk capai keinginannya itu. Untuk itulah mari kita tumbuhkan semangat dalam diri kita untuk mencapai masa depan yang kita harapkan.  Ingat, tidak terkabulnya doa kita bukan berarti tuhan tidak mendengar atau mengabaikan doa kita. Namun, semua yang kita harapkan semuanya butuh proses yang panjang seperti kehidupan manusia yang tak sekejap menjadi manusia dewasa.
Bila mimpi yang kita harapkan benar-benar kita kejar, dengan berjalannya masa pasti akan terwujud dalam kehidupan. Namun jikalau kita merasa lelah dan berhenti mengejar mimpi itu, ingatlah untuk kembali memulai mimpi itu kembali. Meskipun hal itu teramat sulit untuk dilakukan, apalagi untuk makhluk seperti kita ini. Kuatkan hati dan lebihkan rasa untuk saling menyambungkan hati dan pikiran kita. Seperti kata bijak yang sering kita dengarkan “gagal bukan berarti kalah, tapi gagal adalah kemanangan yang tertunda, jangan takut untuk  mencoba dalam artian hal yang positif. Orang-orang takut gagal adalah orang yang orang yang tak akan melakukan apapun dalam hidupnya. Entah itu kegagalan yang menguatkan kita, atau keberhasilan yang berhasil kita raih. Oleh karena itu  mari kita jauhi perasaan takut gagal dalam diri kita, agar kemenangan dapat kita raih. 
*Santri kelas lll Intensif  C,  asal Banyuwangi.

JendelaApa Itu Madzhab??
Rizal Muzakki*

M
ungkinkah kita sering dengar kata-kata yang membuat seseorang kebingungan dan berbeda-beda dalam memilih teori keyakinan atau jalan. Mungkinkah di antara kita ada yang pernah bersafari ke suatu daerah kemudian ia berpenampilan serta bergaya aneh atau berbeda dengan umumnya. Sehingga orang yang berada di sekitarnya menanyakan dengan cara ta’ajub, Sebagai contoh: Imam siapakah yang anda ikuti? Jalan apakah yang anda pilih? Serta keyakinan apa yang anda yakini? Oleh karena itu, di dalam madzhab itu terdapat jalan-jalan menuju keyakinan yang sesuai dengan al-Qur’an dan as-Sunnah. Sehigga orang tersebut menjawab: Aku mengikuti imam yang telah melakukan ijma’ terhadap al-Qur’an dan as-Sunnnah. Kemudian aku memilih jalan menuju suarga dengan jalan yang lurus sehinga aku bisa menggapainya untuk memasukinya, serta saya yakin dengan apa-apa yang diyakini Rasulullah, sahabat-sahabatnya, serta hingga akhir zaman nanti. Yang merujuk pada al-Qur’an dan as-Sunnah.
Kemudian akhirnya orang itu bertanya lagi bukankah di dalam madzhab itu banyak keyakinan dan jalan yang berbeda. Terus apakah semua perbedaan dan keyakinan tersebut sesuai dengan keyakinan al-Qur’an dan Hadits. Akan tetapi penafsiran mereka berbeda-beda istilah makna.

Istilah ma’na
Manhaj menurut bahasa adalah jalan atau thariqah  sedangkan menurut istilah, manhaj adalah sebuah aliran yang sesuai dengan tuntunan al-Qur-an dan as-Sunnah sehingga dapat menimbulkan rangkuman yang berupa hukum-hukum.
Sejak zaman para sahabat, manhaj tersebut sudah ada. Sehingga manhaj tersebut bias dijuluki dengan banyak julukan. Seperti manhaj Aisyah, manhaj Zaid bin Tsabit, sehingga sampailah pada abad ke-13. Yang diklasifikasikan menjadi 4 madzhab yang terkenal hingga abad sekarang. Di antara mereka: Hanafi, Maliki, Ahmad, dan Syafi’i. diantara keempat tersebut saling berbeda pendapat akan tetapi pastinya mereka merujuk kepada al-Qur’an dan as-Sunnah.
Contohnya di dalam hukum fiqh jikalau menurut Imam Ahmad jika menyentuh lawan jenis tidak membatalkan wudlu. Tapi menurut kalangan Imam syafi’i berpendapat bahwa menyentuh terhadap lawan jenis dapat membatalkan wudlu. Jadi dari contoh di atas, kita dapat memilih atas keyakinan kita yang kita inginkan bukanlah sekedar pemaksaan atau perayuan tapi mestinya harus mempunyai kemandirian diri yang dapat mengantarkan kita ke shiroothol mustaqiim.
Menurut agama islam kita tidak ada pemaksaan terhadap keyakinan atas imam yangkita pilih sebagai pedoman. Oleh karena itu kawan-kawan ku mari kita renungkan kembali keyakinan yang kita pilih apa sudah sesuai dengan apa yang kita harapkan. Atau kita hanyalah sekedar ikut-ikutan dalam memilih imam pembimbing kita. Dan janganlah sekali-kali kita mengecap orang lain dengan julukan munafik, jikalau terjadi perbedaan pendapat diantara kita.

*Santri kelas lll Intensif A,  asal Bangkalan.


forewordSenja; Bukan Fosil Dinosaurus
Oleh: Zahrish Lizadi*

etika pagi hari yang menurutku segar untuk menghirup udarayang agak basah. Tiba-tiba sesaat berubah menjadi obrolan yang renyuh manakala tanpa sengaja datang seorang teman menghampiriku. Tanpa basa-basi dan pembukaan-pun obrolan itu tetap terjadi. Kaget. Dengan membawa sebuah buletin dan berkata, “Ini, kok gini? Masak mengambil presepsi orang nggak sesuai dengan kenyataanya, apalagi menyangkut-pautkan nama Senja, Apa maksudnya?”

 
Tanpa neko-neko aku langsung manjawab kegelisahannya, “Biarin, dah, itu kerjaan orang iri. Nanti biar daku yang ngurus dan bla, bla, bla.” Sejurus kemudian saya mengambil ancang-ancang untuk menanggapi hal itu. Sebab ini suatu keteledoran yang tidak boleh dibiarkan walaupun dalam bentuk tulisan. Yah, ala kadarnya untuk menanggapi hal yang mungkin dianggap negative oleh teman-teman saya, namun bagi saya pribadi itu sangat positif untuk dikupas dan dijadikan kaca perbandingan.







***
Saya menulis catatan ini hanya untuk memberikan sebuah sekat yang tidak boleh dilanggar oleh siapapun, terutama orang luar. Saya hanya meng-informasi-kan saja, sebenarnya saya pernah mendokumentasikan dan membaca buletin Senja edisi reuni (bukan edisi ulang tahun). Tepatnya pada rubrik baabussalaam, catatan ustadz Ikraamul Fajri yang berjudul Senja; Bukan Dinosaurus (jelas salah jika Senja dinisbatkan pada fosil apalagi dalam nasib akhir). Apa coba jika hal demikian terjadi? Marah, kecewa, galau, atau apalah. Tapi kalau saya pribadi, sich, menanggapi hal tersebut positif-positif saja, akan tetapi tidak nampaknya pada teman-teman yang non-redaksi (bukan berarti menimbulkan masalah). Yah, maklum, lah, mungkin salah mengambil referensi sehingga tidak dapat dimengerti atau tidak ada referensi lain selain itu. Dan kemungkinan juga diubah sedikit diubah intinya. Atau mungkin lupa maksud isi dari catatan Ustadz Fajri? Entah, lah. Wallaahu a’lam bish shawaab.
Kenapa Ustadz Fajri bermaksud untuk menjuluki Senja layaknya bukan miniatur dinosaurus? Ya, kami sih sepakat menjawabnya simple saja. Sebab ia mungkin turun-temurun terkondisikan begitu ramping dari keregnerasiannya. Andai kata Ustadz Fajri, dkk. tidak terbesit untuk melakukan langkah yang sekondusif ini, mungkin saja hal yang tidak diinginkan pasti terjadi. Atau bahkan ke-khas-annya Senja yang berwarna pink tak terlihat.
forewordApakah itu? Mungkin anda yang penasaran dan pecinta Senja pasti tahu. Yakni, fosil. Nah, apa hubungannya dengan judul tersebut? Mana mungin tidak ada hubungannya jika saja buletin Senja tidak mejadi memorial masa ke masa yang terwariskan oleh generasinya, pastilah hal tersebut terjadi. Namun buletin Senja tak mau mengandung layaknya fosil yang tinggal sisa untuk di teliti. Fosil adalah hasil sisa-sisa peninggalan terdahulu yang tertimbun dalam kurun waktu yang relatif lama. Kemudian diadakanlah penelitian oleh arkeolog untuk membuktikan adanya sejarah zaman purba, purba dan purba.
Tak pelak, buletin Senja dapat termotifasi oleh regenerasian yang dilakukan oleh pendirinya. Mungkin mereka berfikir untuk menjaga kekonsistenannya agar tetap mengalir, begitu pula kami sebagai crew buletin senja tidak rela untuk menebasnyaMungkin nanti senja akan hadir dalam sebuah pemikiran yang ideal dan produktif, layaknya sebuah filsafat yakni lahir dan melahirkan banyak cabang dalam kurun waktunya. Bisa saja nanti akan ada generasi senja yang kesekian kalinya dapat mengubah wajah Senja yang semula hanya sebuah buletin mini menjadi sebuah majalah. Amien. Oleh karenanya pendiri Senja selalu menghimbau kami, supaya hubungan antara generasi pertama ke generasi selanjutnya selalu ada kontak untuk membantu dan menjalaninya bersama. Walaupun tidak ikut serta dalam tumpangan nama. Tapi, pengorbanan dan semangat membangun lah yang dibutuhkan oleh senja agar terhindar dari ke-fosilan dini, walaupun toh semoga kefosilan kuno tidak menghampirinya.
Masalah kekalahan dan keberakhiran suatu makhluk adalah tuhan yang tahu, meskipun kenyataanya kita tahu itu takdir namun kita mengetahui kapan hal itu terjadi. Namun jangan sesekali menyamakan atau membandingkan Senja dalam makhluk hidup. Sebab Senja bukan makhluk hidup (coba lihat ciri-ciri makhluk hidup). Dan bukan berarti Senja terposisikan dalam kekalahan, karena Senja hanyalah sebuah nama dan subyeknya lah yang menjadi pelajunya, jadi kekalahan dan keberakhiran suatu benda tidak akan ada sebab ialah hanya benda biasa yang tidak bisa berjalan dan berbicara. Tapii salahkanlah dan intropeksi lah kepada pelajunya.

***
Ehmm, mungkin begitulah saya merespon hal yang tersangkut pada problem tersebut. Yang terpenting menurut pandangan saya adalah bagaimana caranya untuk mengantisipasi dan mempersatukan langkah antar crew buletin Senja, beserta sahabat Guysto untuk menguakkan segala kreativias dan produktivitasannya dalam bekerja. Mungkin diantara kita tidak semuanya bisa dalam hal yang kita anggap temeh (tulis menulis). Sebab hanya segelintir orang saja yang mau bersahaba dan mencintainya. Namun akhir-akhir ini saya merasa bangga sekali. Tak lain halnya bersangkutan dengan tulis-menulis. Yakni banyak dari sahabat Guysto yang menyumbangkan karya tulisnya. Seakan ini merpakan celah kesadaran yang menguat dari pikiran mereka untuk menutup kemungkinan adanya rubrik ‘fosil’. Rubrik yang kita anggap semoga tidak bersarang bagi kami. Ketika saya mendengar dari mereka yang mengatakan akan mengirim karya ke Buletin Senja, senang betul rasanya. Layaknya sebuah transformator yang telah rusak dan secara tiba-tiba saja kembali berfungsi seperti semula. Emang, sich, semenjak kami memegang buletin Klik!, ada yang mengirim karya. Tapi tidak semembara dan sesemangat buletin Senja dalam penampungan karya.
Saya hanya memiliki rasa bangga yang mendalam ketika karya yang terkumpul lumayan banyak. Namun, lebih kagum dan takjub lagi ketika sayapernah membaca sebuah buku tentang menulis. Dibelakang kover buku tersebut ada sebuah semangat.
        
*Santri kelas lll Intensif  A,  asal Surabaya.


Perbedaan Yang Ideal

Judul buku: Bumi dan manusia
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantara
Cetakan: 16 Oktober 2010
Tebal: 535 halaman
Peresensi: Wildan Ismail




Perbedaan adalah suatu yang memberagamkan segala sesuatu yang ada di dunia. Dan dengan perbedaan itu dapat tercipta suatu kesatuan yang luar biasa jika digabungkan. Tapi terkadang perbedaan antara individu atau kelompok tertentu yang memunculkan rasa tak ccok untuk disatukan.
                Bumi Manusia adalah novel pertama dari tetralogi buruh (Bumi Manusia, anak semua bangsa, jejak langkah, rumah kaca) tetralogy yan teramat fenomenal di kalangan pembaca. Sebab novel ini ditulis ketika penulisnya dipenjara di pulau buru tanpa proses hukum dari pengadilan Pramoedya ini diangga terlibat dalam upaya G30S PKI.
Seorang lelaki keturunan pribumi berdarah bangsawan. Minke yang tengah belajar di H.B.S. (Sekolah khusus anak-anak belanda) dengan beragam kemauan dan berusaha keras ia terus belajar walaupun ia bukanlah anak seorang Belanda. Hingga kehidupan Minke berubah ketika salah seorang kawannya di H.B.S mengenalkannya kepada seseorang perempuan cantik perpaduan belanda pribumi. Annelis.
Di dalam novel Bumi Manusia ini penulisnya Pramoedya Ananta Toer mampu mengemas suatu perbedaan itu menjadi suatu roman yang sangat untuk diikuti. Banyak sekali perbedaan-perbedaan yang Pramoedya padukan didalamya. Salah satunya Ia menggabungkan keaslian kebudayaan Indonesia dan kemodernnya yang dibawa masuk beladnda ke Indonesia. Sebelum ditulisnya roman ini, penulisnya waktu itu mendekam di kampong kerja paksa pulau buru, sempat mencerita ulangkan kepada kawan-kawannya di kamp kerja paksa itu. Hal itu membuktikan bahwa penulisnya bukan hanya menulis dan berimjinasi saja. Tapi penulis rupanya benar-benar mengenal dan mendalami kisah novel Bumi Manusia ini.
                Semenjak Minke dan Annelis saling jatuh hati dan Minke memutuskan untuk tinggal di rumah Annelis. Orang tua minke yang pribumi tulen melihat perubahan yang mendasar pada diri anaknya. Minke dicap kepriaiyannya dengan budaya-budaya barat yang menempel pada dirinya. Ayah Minke tak merestui hubungan Minke dan Annelis, kembali perbedaan yang melatar belakangi larangan itu.
                Larangan orang tua Minke dan rintangan-rintangan dalam kisah cinta mereka sangat bertubi-tubi datangnya hingga akhirnya Minke harus kehilangan Annelis untuk selamanya.
                Novel Bumi Mnusia ni sangat menarik untuk diikuti berbeda dengan buku-buku pelajaran sejarah yang diajarka di sekolah-sekolah. Novel ini begitu hidup seolah bernyawa sehingga mampu membawa pembacanya ke era novel itu diceritakan.
Tak hanya sampai disini novel karangan penulis yang pernah menerima penghargaan The PEN Freedom to Write Award. Novel ini pernah dicetak ke lebih dari tigapuluh tiga bahasa asing dan diceritakan dalam cerita besambung di sebuah radio. Karenanya novel ini memang pantas diangap persembahan Indonesia untuk dunia.