Selasa, 23 Oktober 2012


forewordSenja; Bukan Fosil Dinosaurus
Oleh: Zahrish Lizadi*

etika pagi hari yang menurutku segar untuk menghirup udarayang agak basah. Tiba-tiba sesaat berubah menjadi obrolan yang renyuh manakala tanpa sengaja datang seorang teman menghampiriku. Tanpa basa-basi dan pembukaan-pun obrolan itu tetap terjadi. Kaget. Dengan membawa sebuah buletin dan berkata, “Ini, kok gini? Masak mengambil presepsi orang nggak sesuai dengan kenyataanya, apalagi menyangkut-pautkan nama Senja, Apa maksudnya?”

 
Tanpa neko-neko aku langsung manjawab kegelisahannya, “Biarin, dah, itu kerjaan orang iri. Nanti biar daku yang ngurus dan bla, bla, bla.” Sejurus kemudian saya mengambil ancang-ancang untuk menanggapi hal itu. Sebab ini suatu keteledoran yang tidak boleh dibiarkan walaupun dalam bentuk tulisan. Yah, ala kadarnya untuk menanggapi hal yang mungkin dianggap negative oleh teman-teman saya, namun bagi saya pribadi itu sangat positif untuk dikupas dan dijadikan kaca perbandingan.







***
Saya menulis catatan ini hanya untuk memberikan sebuah sekat yang tidak boleh dilanggar oleh siapapun, terutama orang luar. Saya hanya meng-informasi-kan saja, sebenarnya saya pernah mendokumentasikan dan membaca buletin Senja edisi reuni (bukan edisi ulang tahun). Tepatnya pada rubrik baabussalaam, catatan ustadz Ikraamul Fajri yang berjudul Senja; Bukan Dinosaurus (jelas salah jika Senja dinisbatkan pada fosil apalagi dalam nasib akhir). Apa coba jika hal demikian terjadi? Marah, kecewa, galau, atau apalah. Tapi kalau saya pribadi, sich, menanggapi hal tersebut positif-positif saja, akan tetapi tidak nampaknya pada teman-teman yang non-redaksi (bukan berarti menimbulkan masalah). Yah, maklum, lah, mungkin salah mengambil referensi sehingga tidak dapat dimengerti atau tidak ada referensi lain selain itu. Dan kemungkinan juga diubah sedikit diubah intinya. Atau mungkin lupa maksud isi dari catatan Ustadz Fajri? Entah, lah. Wallaahu a’lam bish shawaab.
Kenapa Ustadz Fajri bermaksud untuk menjuluki Senja layaknya bukan miniatur dinosaurus? Ya, kami sih sepakat menjawabnya simple saja. Sebab ia mungkin turun-temurun terkondisikan begitu ramping dari keregnerasiannya. Andai kata Ustadz Fajri, dkk. tidak terbesit untuk melakukan langkah yang sekondusif ini, mungkin saja hal yang tidak diinginkan pasti terjadi. Atau bahkan ke-khas-annya Senja yang berwarna pink tak terlihat.
forewordApakah itu? Mungkin anda yang penasaran dan pecinta Senja pasti tahu. Yakni, fosil. Nah, apa hubungannya dengan judul tersebut? Mana mungin tidak ada hubungannya jika saja buletin Senja tidak mejadi memorial masa ke masa yang terwariskan oleh generasinya, pastilah hal tersebut terjadi. Namun buletin Senja tak mau mengandung layaknya fosil yang tinggal sisa untuk di teliti. Fosil adalah hasil sisa-sisa peninggalan terdahulu yang tertimbun dalam kurun waktu yang relatif lama. Kemudian diadakanlah penelitian oleh arkeolog untuk membuktikan adanya sejarah zaman purba, purba dan purba.
Tak pelak, buletin Senja dapat termotifasi oleh regenerasian yang dilakukan oleh pendirinya. Mungkin mereka berfikir untuk menjaga kekonsistenannya agar tetap mengalir, begitu pula kami sebagai crew buletin senja tidak rela untuk menebasnyaMungkin nanti senja akan hadir dalam sebuah pemikiran yang ideal dan produktif, layaknya sebuah filsafat yakni lahir dan melahirkan banyak cabang dalam kurun waktunya. Bisa saja nanti akan ada generasi senja yang kesekian kalinya dapat mengubah wajah Senja yang semula hanya sebuah buletin mini menjadi sebuah majalah. Amien. Oleh karenanya pendiri Senja selalu menghimbau kami, supaya hubungan antara generasi pertama ke generasi selanjutnya selalu ada kontak untuk membantu dan menjalaninya bersama. Walaupun tidak ikut serta dalam tumpangan nama. Tapi, pengorbanan dan semangat membangun lah yang dibutuhkan oleh senja agar terhindar dari ke-fosilan dini, walaupun toh semoga kefosilan kuno tidak menghampirinya.
Masalah kekalahan dan keberakhiran suatu makhluk adalah tuhan yang tahu, meskipun kenyataanya kita tahu itu takdir namun kita mengetahui kapan hal itu terjadi. Namun jangan sesekali menyamakan atau membandingkan Senja dalam makhluk hidup. Sebab Senja bukan makhluk hidup (coba lihat ciri-ciri makhluk hidup). Dan bukan berarti Senja terposisikan dalam kekalahan, karena Senja hanyalah sebuah nama dan subyeknya lah yang menjadi pelajunya, jadi kekalahan dan keberakhiran suatu benda tidak akan ada sebab ialah hanya benda biasa yang tidak bisa berjalan dan berbicara. Tapii salahkanlah dan intropeksi lah kepada pelajunya.

***
Ehmm, mungkin begitulah saya merespon hal yang tersangkut pada problem tersebut. Yang terpenting menurut pandangan saya adalah bagaimana caranya untuk mengantisipasi dan mempersatukan langkah antar crew buletin Senja, beserta sahabat Guysto untuk menguakkan segala kreativias dan produktivitasannya dalam bekerja. Mungkin diantara kita tidak semuanya bisa dalam hal yang kita anggap temeh (tulis menulis). Sebab hanya segelintir orang saja yang mau bersahaba dan mencintainya. Namun akhir-akhir ini saya merasa bangga sekali. Tak lain halnya bersangkutan dengan tulis-menulis. Yakni banyak dari sahabat Guysto yang menyumbangkan karya tulisnya. Seakan ini merpakan celah kesadaran yang menguat dari pikiran mereka untuk menutup kemungkinan adanya rubrik ‘fosil’. Rubrik yang kita anggap semoga tidak bersarang bagi kami. Ketika saya mendengar dari mereka yang mengatakan akan mengirim karya ke Buletin Senja, senang betul rasanya. Layaknya sebuah transformator yang telah rusak dan secara tiba-tiba saja kembali berfungsi seperti semula. Emang, sich, semenjak kami memegang buletin Klik!, ada yang mengirim karya. Tapi tidak semembara dan sesemangat buletin Senja dalam penampungan karya.
Saya hanya memiliki rasa bangga yang mendalam ketika karya yang terkumpul lumayan banyak. Namun, lebih kagum dan takjub lagi ketika sayapernah membaca sebuah buku tentang menulis. Dibelakang kover buku tersebut ada sebuah semangat.
        
*Santri kelas lll Intensif  A,  asal Surabaya.


Perbedaan Yang Ideal

Judul buku: Bumi dan manusia
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantara
Cetakan: 16 Oktober 2010
Tebal: 535 halaman
Peresensi: Wildan Ismail




Perbedaan adalah suatu yang memberagamkan segala sesuatu yang ada di dunia. Dan dengan perbedaan itu dapat tercipta suatu kesatuan yang luar biasa jika digabungkan. Tapi terkadang perbedaan antara individu atau kelompok tertentu yang memunculkan rasa tak ccok untuk disatukan.
                Bumi Manusia adalah novel pertama dari tetralogi buruh (Bumi Manusia, anak semua bangsa, jejak langkah, rumah kaca) tetralogy yan teramat fenomenal di kalangan pembaca. Sebab novel ini ditulis ketika penulisnya dipenjara di pulau buru tanpa proses hukum dari pengadilan Pramoedya ini diangga terlibat dalam upaya G30S PKI.
Seorang lelaki keturunan pribumi berdarah bangsawan. Minke yang tengah belajar di H.B.S. (Sekolah khusus anak-anak belanda) dengan beragam kemauan dan berusaha keras ia terus belajar walaupun ia bukanlah anak seorang Belanda. Hingga kehidupan Minke berubah ketika salah seorang kawannya di H.B.S mengenalkannya kepada seseorang perempuan cantik perpaduan belanda pribumi. Annelis.
Di dalam novel Bumi Manusia ini penulisnya Pramoedya Ananta Toer mampu mengemas suatu perbedaan itu menjadi suatu roman yang sangat untuk diikuti. Banyak sekali perbedaan-perbedaan yang Pramoedya padukan didalamya. Salah satunya Ia menggabungkan keaslian kebudayaan Indonesia dan kemodernnya yang dibawa masuk beladnda ke Indonesia. Sebelum ditulisnya roman ini, penulisnya waktu itu mendekam di kampong kerja paksa pulau buru, sempat mencerita ulangkan kepada kawan-kawannya di kamp kerja paksa itu. Hal itu membuktikan bahwa penulisnya bukan hanya menulis dan berimjinasi saja. Tapi penulis rupanya benar-benar mengenal dan mendalami kisah novel Bumi Manusia ini.
                Semenjak Minke dan Annelis saling jatuh hati dan Minke memutuskan untuk tinggal di rumah Annelis. Orang tua minke yang pribumi tulen melihat perubahan yang mendasar pada diri anaknya. Minke dicap kepriaiyannya dengan budaya-budaya barat yang menempel pada dirinya. Ayah Minke tak merestui hubungan Minke dan Annelis, kembali perbedaan yang melatar belakangi larangan itu.
                Larangan orang tua Minke dan rintangan-rintangan dalam kisah cinta mereka sangat bertubi-tubi datangnya hingga akhirnya Minke harus kehilangan Annelis untuk selamanya.
                Novel Bumi Mnusia ni sangat menarik untuk diikuti berbeda dengan buku-buku pelajaran sejarah yang diajarka di sekolah-sekolah. Novel ini begitu hidup seolah bernyawa sehingga mampu membawa pembacanya ke era novel itu diceritakan.
Tak hanya sampai disini novel karangan penulis yang pernah menerima penghargaan The PEN Freedom to Write Award. Novel ini pernah dicetak ke lebih dari tigapuluh tiga bahasa asing dan diceritakan dalam cerita besambung di sebuah radio. Karenanya novel ini memang pantas diangap persembahan Indonesia untuk dunia. 

HikmahMenulis adalah Kehidupan
Najib Hizbulloh*

A
l-Kisah, diceritakan saat umat muslim terkapar, tercancap di dadanya berbagai macam ujung mata senjata. Tak bernyawa. Di hamparan padang pasir yang tandus dan gersang, negeri kaum yang berhati bengis dan kejam. Seluruh tetesan darah mereka ikhlaskan. Istri dan anak mereka mereka lupakan. Tapi dalam seluk beluk hatinya mereka tersenyum bangga terjatuh diatas jalan tuhannya. Ditengah sengitnya perang bergejolak, Fulan mengirim surat burung kepadasalah satu sahabat Nabi yang bernama Utsman bin Affan. Bahwa tidak sedikit para mujahid kita yang telah hafal Al-Qur’an gugur ditenga-tengah peperangan. Kemudian Sayyidina Utsman bin Affan mengutus untuk segera mengeluarkan dan menyelamatkan para mujahid yang hafal Al-Qur’an itu untuk meninggalkan medan peperangan dan diselamatkan oleh tim medis yang terdekat. Musyawarah-pun dilaksanakan keesokan harinya dan pada akhirnya Sayyidina Utsman merekomendasikan pada para sahabatnya untuk segera membukukan Al-Qur’an. Dari kata-perkata mereka tulis, mereka kumpulkan ayat-ayat yang ada diatas tulang unta dan daun kering yang rapuh.

***
Amat sulit kita bayangkan betapa perihnya perjuangan mereka para mujahidin demi mengeakan sayap agama Islam diatas permukaan bumi ini. Dari sini kita bisa mengambil benang merah, mungkin apabila Sayyidina Utsman tidak menyuruh para sahabatnya untuk segera membukukan Al-Qur’an, maka mustahillah kita bisa melihat dan menikmati isi kandungan Al-Qur’an itu dengan mudah. Maka, jika seorang itu mau mengangkat pena dan mau mengukir kata diatas hamparan kertas yang tak berdosa, maka dia akan mencipakan kehidupa bagi dirinya di masa yang akan datang. Dalam artian, seorang itu akan harum semerbak namanya setelah ia mati. Dan seakan-akan dia masih hidup. Sering kali kita mendengar sya’ir-sya’ir yang tidak asing lagi di kalangan pesantren yang dikarang oleh seorang ulama klasik saat itu yang bersya’ir: Qaala muhammadun huwabnu maaliki, Ahmadu RobbiLlaaha khayra maaliki,.. Yah, beliaulah syech Al-‘Aalim Al-‘Allaamah Muhammad Ibnu Maalik Al-Andalusiy. Beliau sengaja megawali karanganyya yang bernama Alfiyyah dengan Lafadz Huwabnu Maaliki karena membenarkan kepada para pembaca bahwa Alfiyyah yang itu benar-benar dkarang oleh ibnu Maalik dan Insha Allah dengan beliau mengawali Nadzomnya dengan lafadz itu, semua pelajar di dunia yang mengaji kitab Alfiyyah itu mengetahui bahwa yang mengarang Alfiyyah yang mereka pelajari itu adalah Syech Ibnu Malik.
 Seorang tidak akan mudah saat mengangkat pena kemudian menulis apa yang terdetikkan dalam fikirannya apabila tidak dipupuk dengan kegiatan membaca. Membaca akan sangat membantu ketik menulis karena membaca akan menjadikan seseorang itu lebih tahu dan mengerti seperti apa dan bagaimana penulisan yang baik itu. Dan kita akan mengetahui lebih banyak lagi informasi, pengetahuan, dan pengalaman. Dengan membaca pula kita bisa mejadi lebih pintar, kita akan mendapatkan pengalaman yang luar biasa kalau kita mau membaca. Jadi, antara menulis dan membaca itu sangat berkesinambungan seperti halnya seorang itu sangat kesulitan ketika berjalan apabila ia hanya menggunakan satu kaki saja dalam berjalan. Begitu pula dalam menulis, tidak akan bisa berjalan dengan mulus apabila orang tersebut tidak membekali kegiatannya tersebut dengan membaca. Dan sekali lagi, membaca akan sangat membantu kita dalam hal tulis-menulis. Dan dengan menulislah orang itu akan terkenang di masa yang akan datang jika ia menulis. Wallahu a’lam bish shawaab.

*Santri kelas lll Intensif  A,  asal Malang.

Geliat Keilmuan Santri
Abdil Ghufron*

K
ali ini saya cukup bimbang untuk menentukan judul artikel ini. Mengapa saya menulis judul seperti diatas? Mungkin karena desakan tema yang ditentukan sehingga mengharuskan saya menulis catatan tentang hal yang berkenaan dengan ‘membeca dan menulis’. Dalam kesempatan ini, saya ingin menggubris sesuatu realita yang kerap terjadi di lingkungan santri. Suatu fenomena yang mengharuskan kita untuk mengintrospeksi diri kita. Apakah semua waktu yang kita miliki berguna bagi pengembangan potensi-potensi yang telah dikarunai Allah kepada setiap umat-Nya ?
Sepintas mutu keilmuan dan kereativitas santri Al-Amien sudah tidak di ragukan lagi, spesial bagi minoritas santri yang memperdalaminya saja. Sarana maupun fasilitas sudah cukup memadai di pondok ini. Misal : perpustakaan-perpustakaan, laboratorium komputer toko buku-buku ilmiah, dan kelompok-kelomopok kalian keilmuan seperti FKN, SSA, LENSA, KOPI, dan KWQ telah tersedia. Namun hal ini menjadi nihil ketika melihat minimnya minat santri yang terobsesi untuk mengembangkan potensinya, menjadikan sarana dan prasarana tersebut bisa dikatakan non-fungsi.
Kalau kita bernostalgia melihat fenomena beberapa tahun silam, dalam hitungan hari saja mading-mading dan buletin-buletin gencar diterbitkan. forum-forum kajian diskusi aktif dapat kita jumpai ke-eksistensiannya. Tak tahu mengapa, hal-hal positif tersebut kini jarang terlihat dan bahkan tidak terlihat sama sekali.
Mengapa momen ini terjadi? Mungkin karena semangat (ijtihad) santri telah termakan oleh zaman atau ikut terbang bersama burung-burung ke awan. Menurut saya sih, itu tidak mungkin karena semangat itu bukanlah debu yang berterbangan dan bukanlah kayu yang habis dimakan oleh rayap yang kurang makan. Tapi semangat itu timbul pada setiap diri seorang dan seorang itu sendirilah yang menjaga intensitas semangat dalam dirinya apakah berkembang maupun mengalami kemerosatan.
Dalam mengembangkan potensi diri santri , banyak metode yang bisa dilakukan, seperti : membaca, bercakap-cakap dengan bahasa arab,bahasa inggris dan menulis karya ilmiah semisal. Anehnya hal-hal tadi menjadi sesuatu yang asing belakangan ini dan semakin terjamah oleh santri-santri.
Salah satu metode dalam memperoleh ilmu adalah membaca. Membaca adalah melihat kalimat demi kalimat yang tercantum dalam buku lalu dicerna oleh otak dan diucapkan melalui hati atau lisan. Perlu diketahui, membaca adalah salah satu kegiatan untuk menemukan informasi dan inspirasi dapat kita temukan pada saat membaca dan dengan membaca kita bisa mengetahui apa yang belum pernah kita ketahui. Seolah-olah, buku yang kita baca bagaikan guru yang mengajari kita tanpa batas waktu dan era.
Pernah suatu waktu, ketika penulis sedang duduk di bangku kelas Satu Intensif. Ketika itu penulis merasa termotivasi dan gairah membaca meningkat.overdosis. kenapa begitu? Karena, sesaat setelah Wali kelasku mengajar pelajaran Nushsus (kata mutiara). Sepatah kata mutiara tertulis di papan. “Al-qiroo’atu ustadzun aalimun bikulli illmin” yang bermakna “Membaca adalah guru yang mengetahui semua ilmu”. Semua santri Al-Amien pasti mengetahui kata mutiara ini. Namun implementasiannya jarang digunakan dalam kehidupan sehari hari.
Kadang penulis juga  melihat suatu kejanggalan. Kali ini perihal baca-membaca. Meski sebagian santri gemar mengunjungi perpustakaan ataupun mengoleksi buku ilmiah sekalipun. Anehnya mereka  jarang membaca tulisan yang termaktub didalamnya. Tapi, kebanyakan dari mereka hanya melihat gambar-gambar yang tertera didalam buku tersebut. Ketika saya selidiki, mengapa begitu? Ternyata ada dua hal yang melatarbelakangi hal itu terjadi. Setelah saya mewawancarai beberapa teman tentang hal itu. Kebanyakan dari mereka menjawab bahwa mereka menganggap “membaca adalah Sesuatu hal yang membosankan, dan apabila saya membaca semua teks tersebut maka banyak waktu yang harus saya luangkan. Kedua, karena melihat gambar adalah kegiatan yang menghibur bagiku”. Persepsi seperti ini sering terjangkit di kalangan santri akhir akhir ini.
Padahal membaca itu sangat berfaedah bagi kehidupan kita, khususnya bagi anda yang suka menulis karya ilmiah, cerpen, serta paper ketika kelas akhir, makalah, dsb. Karena dengan membaca kita bisa menemukan ide maupun inspirasi dalam hal tulis menulis. Dengan membaca, kita tidak mungkin rugi. Malah sangat menguntungkan. Ketika kita seadng duduk di kelas akhir (niha’ie), salah syarat kelulusannya selain lulus dalam ujian tulis juga harus lulus dalam penulisan paper (makalah). Maka dari itu kita harus sedia payung sebelum hujan. Mumpung masih ada waktu, untuk berkarya dan berkreativitas.
Kegiatan membaca sangat berkaitan dengan mengasah otak ,dan mampu mem-freshkan suasan hati. Maka dari itu, jika ingin kegiatan membaca itu menjadi bagian dari hobi kita. Penulis punya sedikit trik agar membaca menjadi hal yang menyenangkan dalam kehidupan. Membaca yang efisien menurut beberapa metode yang pernah penulis coba adalah metode ‘membaca intensif’. Ketika penulis duduk dibangku kelas tujuh MTs. Pernah mencoba metode ‘membaca intensif’. Wal hasil , metode itu sangat efektif dalam membaca, khususnya bagi anda yang suka membaca cepat. Membaca intensif adalah membaca dengan menitikfokuskan pandangan ke suatu titik, tanpa membaca yang lain. Serta tanpa mengeraskan suara dan menggerakkan bibir atau lidah.
Sebagai santri Al-Amien, yang setiap harinya dipenuhi dengan kegiatan yang padat. Pastinya, waktu untuk membaca cukup singkat. Maka, penulis menyarankan. Bagi anda yang hobi membaca agar menggunakan metode tersebut yaitu membaca intensif dalam kegiatan membaca anda.
Hal yang tak kalah penting dalam mengembangkan keilmuan adalah tulis-menulis. Tulis-menulis sangat luas penjabarannya dan sangat bervariasi. Semisal: karya ilmiyah, cerpen, puisi dsb. Hal ini telah disinggung di paragrap sebelumnya. Setelah membaca lebih afdlolnya kita menulis sedikit resume dari apa yang kita baca. Karena itu mencoba pemahaman kita terhadap apa yang telah kita baca.
Pernah ulama’ kita di zaman klasik yaitu, Imam Syafi’ie, berkata, “Ilmu itu bagaikan binatang buruan. Maka ikatlah binatang buruanmu (ilmu) dengan tulisan, walaupun hanya di dinding.” Dari perkataan tadi kita dapat mengambil hikmah dan mengerjakannya sesuai saran diatas. Dan agar kapasitas keilmuwan dan kreativitas kita makin berkembang, kita patut mengikuti pesan dari perkataan Imam Syafi’i tadi. Ketika kita mengetahui beberapa kata sulit dalam bahasa arab, kita hanya menghapalkannya saja tanpa menuliskannya di buku. Saya yakin. Setelah beberapa bulan atau tahun kalimat-kalimat yang pernah kita hafal sebagian akan hilang memudar. Jauh dibandingkan dengan orang yang berpegang teguh terhadap perkataan Imam Syafi’i tadi. Ketika dia memperleh suatu ilmu, dia  akan menuliskannya di buku dan ketika ia lupa. Ia bisa melihat kembal ke catatan tersebut. Dalam tanda kutip, “hewan buruan tidak akan kabur jika kita mengikatnya dengan tali yang kuat”. Dalam artian suatu ilmu yang diikat (ditulis) dalam sebuah buku, maka ilmu itu tidak akan hilang meski waktu terus berputar.


*Santri kelas lll Intensif  A,  asal Bondowoso.


UmpanPermulaan Wahyu Allah
Oleh: Rizal Muzakki*

G
iatnya pelajar zaman sekarang ini, pelajar sudah makin membara semangatnya untuk membaca. Tentunya itu semua disebabkan suatu penyebab bahwasannya seorang pelajar tidak kalah saingan anar satu dengan lainnya. Mereka saling berlomba-lomba untuk menjadikan dirinya sebagai seorang professinal. Banyak sekali kta dapatkan bahwasannya para ilmuwan yang beliau bisa menciptakan satu alat yang canggih itu semua bukan halnya karena beliau saling membaca. Begitu pula dengan dia dapat membedakan diantara yang dlolaal dan yang haqq, antara kedzaliman dan kelurusan. Bukanlah didalam ajaran agama kita. Diawal ciptanya kita dengan membaca sebagiamana yang telah Allah turunkan pada kitabnya di Surat Al-Alaq. Yang artinya:
Iqro’ bismi Rabbikal ladzii khalaq.... (QS Al-‘Alaq [96]:1)
“Bacalah dengan menyebut nama tuhanmu yang telah menciptakan”  
Dengan penafsiran diatas, para ‘ulama berbeda pendapat serta mereka mempunyai ijtihad masing- masing yang satu sama lain berbeda pikiran, sebagian mereka ada yang mengatakan bahwasannya ketika Rosululloh diciptakan, belum bisa untuk membaca kemudian Allah menurunkan wahyu kepadanya dengan perantara malaikat Jibril. Setelah itu datanglah Jibril padanya. Dan Jibril itu memerintahkan padanya untuk mengikuti apa yang dibacanya. Kemudian Rosululloh meraasa gemetaran seusai itu. Kemudian beliau pulang kerumahnya dan berbaring. Kemudian sang istri yang bernama Khodijah menanyakan, “Wahai pujaan hatiku, apa gerangan yang ada di dirimu.” Kemudian Rosululloh menjawab dengan apa yang telah terjadi sebelumnya.
Dalam potongan ayat diatas ini, seketika Allah menciptakan manusia, Allah telah menganjurkan terhadap kita untuk membaca sebagai mana pula seketika kita menduduki dalam beragama islam, kita pula telah diperintahkan oleh-Nya utnuk mengucapkan atau membaca kalimat dua syahadat. Yang menunjukkan terhadap persaksian serta pengagungan bagi-Nya. Begitupun dengan salah satu rukun isalm yang kedua. Yang mana Allah telah memerintahkan kepada kita untuk mendirikan  shalat. Perlu kita ketahui.          
Didalam seluk beluknya shalat, semua itu di-dahului dengan bacaan, begitu pula diakhiri dengan bacaan salam, begitulah dengan Al Qur’an, Allah SWT. Telah menurunkan al-Qur’an halnya ia merupakan wahyu yang diberikan kepada nabi muhammad SAW. Saat di Gua Hira, bahwasanya itu merupakan pedoman kita didunia dan diakhirat kelak. Selidik punya selidik dulu al Quran hampir terombang-ambing sehingga para sahabat merasa kebingunagn dan kehawatiran siapakah yang akan melanutakan ajaran Allah dan Rasul-Nya ini disebabkan banyaknya para mukhaffidz Al Qur’an telah mendahului mereka sehingga para sahabat mepunyai ide untuk mengumpulakannya. Konon dulu tulisan Al-Qur’an itu berhamburan, entah itu ada diatas batu, di pelepah kurma, serat tulang unta. Subkhanallah dulu para sahabat mereka bersungguh-sunguh untuk menyatukannya sehingga terbentuknya Al-Quran Al-Kariem.  Bagimana dengan diri kita? Seringakali pula kita mendapati lembaran lembaran Al Qur’an yang terlantas, sehingga bagi kita untuk mengalmbilnya atau menjaganya. Justru ia dijadikan bahan injakan. Na’udzubillahi min Dzalik. Pernahkah kita mendengar isu-isu bahwasannya kala-mulloh itu pernah akan dibakar? So, bagaimanakah tindakan kita sekarang ini untuk menanggapi dan menindakinya?
*Santri kelas lll Intensif  A,  asal Bangkalan.

Lampion Kecil
Aqshol Amri*

T
erkadang nasib memang tak memihak pada orang-orang pedalaman, meskipun sejatinya dari yang dapat kuamati semangat kami lebih membara dibandingkan kebakaran di kota besar yang melahap ratusan rumah. Aku sadar akan toleransi para korupsi yang jarang mengayomi orang-orang bodoh seperti kami. Kaum bodoh yang selalu percaya bahwa kami bisa bersinar seperti mentari. Dan menari bersama para mentri yang biasa di temui di diskotik-diskotik tempat keluarga bodoh kami menari.
***

Disore seperti ini berduyung-duyung aku dan kawan kecil di desa sekitar 150Km dari ibukota irian jaya senantiasa berkumpul menuju balai desa. Mengikuti pelatihan membaca dan menulis untuk kaum bodoh buta huruf seperti kami. Tentu saja dengan keterbatasan hingga pensilpun kadang harus bergantian. Tapi aku tak pernah putus dari keyakinan, sehingga hasratku untuk pintar membuatku tak pernah terlambat datang menadahi ilmu dari guru kiriman ibu kota ternama yang di utus untuk mengurus desaku. Betapa besar partisipasinya sehingga tak ada satupun kawan kami yang mencoba menyia-nyiakan kesempatan ini. Memang sejak dahulu aku ingin bisa membaca dan menulis seperti tokoh-tokoh cerdas yang biasa kutemui di alam mimpi. Hanya membayangkan dan kufikir itu adalah hal yang mustahil untukku. Maklum saja sejak kecil aku diajarkan bertarung dengan macan atau binatang buas lainnya untuk jadi santapan semalam. Juga mencari sagu di hutan yang sering kali membuatku tersesat. Tapi, itu dulu, dulu!!
Sore seperti ini, tak seperti biasanya sejak seminggu yang lalu kami berhenti bergembira bersama bermain sepakbola di lapangan dekat sungai dengan batok kelapa. Semua tergantikan dengan kegiatan belajar bersama. Di balai desa yang masih sangat tradisional. Gentingnya saja masih menggunakan daun yang di tumpuk-tumpuk rapi untuk melindungi kami dari hujan. Tanpa pintu dan jendela sehingga rasanya senja juga memberi harapan besar pada kami. Tunas muda bangsa yang baru saja melangkah setelah lama vakum dari dunia pendidikan. Ah tidak ! bukan vakum tapi kami memang tak pernah mengenal pendidikan.
Sore adalah waktu yang tak ingin terbang sia-sia oleh penduduk desa. Karna memang aku dan banyak warga disini takut dengan realita kegelapan yang tak bisa di hindarkan. Satu rumah kadang hanya memiliki satu lampu lampion kecil yang menyala karena minyak tanah.
Dulu waktu malam datang, lampion itu hanya sebagai penerang agar tidak terasa gelap gulita. Semua masuk rumah jika malam telah datang menjamah, malam menyapa bersama para pemburu tak berakal yang bisa saja menjadikan seorang balita untuk makanan. Warga disini sangat takut akan semua itu. Warga diam dan bersiap untuk tidur. Tapi kali ini tidak, aku telah menemukan cara yang tepat untuk mengisi waktu kosong. Kembali mengulang membaca dan menulis seperti yang diajarkan guruku tadi pagi. Terus dan terus seperti mimpiku yang tak pernah berhenti. Seperti anganku yang kuharap bukan hanya sekedar angan. Dan aku selalu yakin.
***
Ce-eSDiantara keramaian kota yang terasingkan. Aku menemukan hal yang baru di mata orang desa sepertiku. Di Surabaya tepatnya, merantau yang sudah kudambakan lima belas tahun yang lalu. Sejak datang si kota ini, telah ku pilih tempat tinggal kost yang luasnya se-box mobil pengangkut barang. Tetapi, tak jauh dari lokasi kuliahku. Seperti yang dulu aku memang terbiasa dengan keterbatasan. Dan lagi-lagi aku menjadi orang yang terasingkan.
Baru beberapa bulan yang lalu, lima bulan tepatnya. Sepertinya aku sudah tiada minat lagi untuk belajar terlalu tinggi. Semua minat ku tiba-tiba lenyap, entah siapa yang mengambilnya dariku. Ini bukan karna aku tak mau menjadi mentari. Tapi aku tak bisa beradaptasi dengan zaman yang sepertinya menyuruhku untuk saling menjerumuskan dalam jurang kegagalan. Mungkin juga mentalku yang tak siap dengan orang-orang kota yang terlalu pandai, yang selalu meng-anggap remeh tak ada daya kaum lemah seperti halnya kauwan-kawan ku disana.
Hanya bertahan beberapa bulan saja. Di kota besar aku selalu rindu pada desaku. Sempat kutulis surat pendek yang mengenang perjalanku. Yang mungkin kuselipkan pada desah angin agar sampaii dilanggit ketujuh.
***

                “Surabaya terindahku”
Ternyata realita kehidupan kadang memang tak pernah bisa dimengerti, memandang sebuah hal baik yang menyimpan begitu besar dampak negative. Kalau bukan itu, mungkin aku yang salah menilai bahwa agamaku terlalu ketat untuk bercengkrama bersama peri. Ah tidak! Semuanya benar. Aku yang salah tak pernah berterima kasih pada karunia tuhan yang diberikan padaku. Kufikir kota-kota besar seperti ini yang akan mengantarkanku menari-nari juga menjadi mentari. Namun, semua salah. Sangat salah!
Antara pergaulan desaku dengan kota yang tak terjangkau nalar. Bayangkan saja, baru dua minggu aku kenal dengan seseorang wanita. Dia sudah mengajakku pergi kesurga dunia! Tapi maaf aku tidak suka pergi kesurgamu. Sengaja saja aku tolak karna aku bukan orang yang mudah menerima tawaran wanita untuk berjalan-jalan di bawah pepohonan. Dan yang paling aku herankan lagi. Disini mayoritas nilai dapat dibeli tanpa usaha. Kecerdasan hanya berbentuk tulisan yang bisa luntur, dalamnya kosong. Dimana otak mereka? Mementingkan ijazah daripada harga diri yang sulit di cari.
***

Begitulah isi sejengkal surat yang kutulis. Aku berharap mereka membacanya.


*Santri kelas lll Intensif  B,  asal Gresik.

Pulang  Kampung
Wildan Ismail*
L
umajang adalah kota terindah dalam hidupku. Kota yang sangat teramat berjasa akan pertumbuhanku. Kota yang ajariku untuk menulis, membaca, dan mengenal segalanya. Kini setelah sekian lama kutinggalkan kota dimana air ketuban ibuku pecah, kini aku pulang dengan sejuta harap.

Akhirnya perusahaan memberikan cutinya untukku. Setelah berbulan-bulan bekerja mengejar deadline berita yang dimuat di Harian Metropolis tempatku bekerja. Kemampuanku mengolah berita harus kusimpan sejenak, untuk menguras pikiran-pikiran kotor yang telah bertahun mengendap tak pernah diganti menjadi pikiran yang serba jernih layaknya made in PDAM.
Hari ini aku akan pulang ke kampung halaman mengobati rasa rindu bercampur kangenku terhadap sosok seorang ibu dan juga sanak-sanakku di sana. Rasa kangenku juga mengalir kini kepada seorang gadis sahabat kecilku dulu. Fitri. Teringat bayangannya ketika dulu kami main bersama dikala umur kami sama-sama mogok di tahun ke tiga kehidupan. Hingga persahabatan terjalin sampai kami sama masuk SMP. Kami bersahabat lebih dari sekedar dekat.
Tapi semua berkehendak lain, orang tuaku putuskan untuk masukkanku ke pondok pesantren di pulau Madura. Persahabatanku dengan Fitri seperti tak ada kelanjutan dalam kisahnya. Begitu pula ketika aku selesaikan tugasku belajar dan mengabdi di pondok pesantrenku, aku langsung diterima bekerja di sebuah perusahaan surat kabar terkenal di Jakarta, berkat bakat jurnalis yang kuperoleh ketika aku belajar di pesantren. Aku hanya pulang dua hari waktu itu untuk tagih doa dan ridho dari orang tua dan sanak sekaligus berpamit sapa dengan sahabat manisku itu.
Namun, kini  setelah keras aku bekerja di balik meja redaksi Harian Metropolis akhirnya atasanku baru memberi cuti panjang kali ini setelah lima tahun aku bekerja.
Mesin Alphard sudah aku panaskan, bekal beserta beberapa helai pakaian telah aku kemas rapi dalam sebuah tas ransel hijau tua yang dibelikan ibuku dulu. Tinggal kulajukan mobil ke sebuah kota kabupaten di bawah indahnya puncak Semeru. Lumajang, ya itulah tujuanku.
***
Perjalananku berakhir setelah jarum pendek dalam jam yang mengkait di lenganku berputar tiga kali. Suasana kota kelahiranku ini hampir tak ada perubahan setelah kutinggal bertahun-tahun lamanya. Kutambah kecepatan roda kendaraanku karena rasa rinduku kepada semua insan yang kukenal di kota ini tak kuat kubendung, terutama rasa rinduku kepada seorang ibu yang membesarkanku. Tentunya juga Fitri.
Kuparkir di halaman rumah yang kini rata dengan paving. Padahal dulu masih asli dengan gembur tanahnya yang sering disiram oleh nenekku agar tak berdebu. Sambutan tak terhindarkan. Rupanya ibu bersama sanak yang lain juga sahabat-sahabatku sudah menantiku dengan hidangan yang kelihatan nikmat tentunya. Tapi, kekecewaanku tiba-tiba terbit, tak kujumpai Fitri di sini, apa dia sudah tak pedulikan aku, sahabatnya?
Bersusah payah aku sembunyikan kekecewaanku dari pandang sanak yang menyambut hadirku. Senyum selalu ku jajakan kepada seluruh insan yang ada di griya ini.
“Bagaimana kerjamu, le?” Tanya ibuku.
“Alhamdulillah, lancar Bu.” Jawabku tenang.
“Kami selalu berlangganan surat kabar tempatmu bekerja, Dan.” Sahut seorang sanak.
Lelah aku setelah tuntaskan lalu lintas Jakarta hingga titik rumahku di Lumajang. Sejenak atau mungkin lama kubaringkan gempal tubuhku pada kasur di ruang tengah yang biasa kutiduri semenjak aku SD, dan mengeja setiap huruf mimpiku menjadi rangkaian ingat masa-masa kecil bahagiaku di sini dulu.
***
Mentari pagi perjelas garis lukis Semeru, menambahkan titik indah panorama tanah pisang agung. Kuputuskan untuk jalan-jalan di sekitar rumahku. Tegur sapa sering kuterima dan kubalas dengan sapa pula. Langkahku berhenti di depan sebuah rumah yang mengingatkan masa lalu. Itu adalah rumah Fitri. Rumah gadis kecilku dulu. Berharap kini Fitri keluar tunjukkan sosok dewasanya dari kediamannya, tapi hingga berlama-lama aku di sini tak kujumpai lekuk senyumnya.
Kekecewaanku semakin pekat sdah dua hari aku di rumah namun, wajah sahabatku tak kunjung kulihat, apa yang terjadi dengannya apa ia sudah tak ada di rumah ini lagi? Atau dia telah membenciku setelah lima tahun aku pergi tanpa kabar.
Sarapan pagi buatan ibuku terasa nikmat di lisanku, mempererat kasih ibuku yang semakin surut lantaran jarak mengukurku dengannya selama ini. Bayangan Fitri muncul di tengah-tengah prosesi sarapanku. Tanpa basa-basi kutanyakan kabar Fitri pada ratu kehidupanku itu.
“Oh iya bu, Fitri gimana kabarnya?”
“Banyak hal yang terjadi le, ketika kamu pergi ke Jaarta dulu.”
“Maksud Ibu?”
“Fitri sudah menikah le dengan pemuda Bondowoso.”
Syukurlah akhirnya sahabatku itu ada yang menjaga, kalau-kalau aku kembali ke rutinitas keredaksianku di Jakarta. Aku yakin lelaki itu baik dan mampu mendidik Fitri dan anaknya kelak sesuai kaidah agama. Dan pikiranku pun menyimpulkan bahwa lelaki itu teramat beruntung dapat persunting senyum sahabatku itu hingga buatku iri.
“Tapi le.”
“Tapi apa Bu?”
“Suami fitri rupanya mentalnya terganggu, hingga ia sering pukuli fitri sahabatmu tanpa sebab dan tanpa belas kasih, fitri pun tak diperkenankan keluar rumah olehnya.”
Ucapan ibuku membuatku terkejut. Jadi lelakii yang membuatku iri adalah seorang lelaki gila yang gemar lakukan tindak kekerasan. Tak bisa di biarkan.
“Tapi mengapa orang tua Fitri diam saja Bu?”
“Ibu juga tak tahu le.”
Tak habis bahan bakar pikirku. Bukankah orang tua Fitri adalah sosok orang tua yang tegas. Apa sebenarnya yang terjadi di sini? Apa yang dimiliki lelaki durjana itu hingga membuat mertuanya tunduk terhadapnya. Ini sungguh tak wajar. Sesungguhnya semua ini perlu untuk diluruskan.

***
Hidangan malam telah dunia masak, membentuk rangkaian gugus di papan langit. Bulan menyanyi karaoke ditemani angin malam kota ini. Kesal berselimut amarah tertancap makin dalam letaknya di hatiku. Malam ini aku menyusup ke rumah Fitri dengan wajah tertutup guna mengetahui apa yang terjadi di rumah kecil berwarnakan ungu itu? Endap-mengendap aku bagai maling. Oh tidak, ratusan bahkan hampir ribuan kasus pencurian telah kutulis di kolom kriminal Harian Metropolis. Tapi malam ini aku harus bertingkah layaknya pencuri seperti tokoh utama dari berita yang kukabarkan itu. Menyusup rumah orang tanpa permisi merupakan sesuatu yang tak pantas kulakukan, apa lagi sebagai seorang santri, tapi kemarahanku kepada suami Fitri menutupi kenyataan. Aku kini berada di ruang tengah, tempatku dulu bercengkrama dengan Fitri. Tak kujumpai seorangpun di sini. Kubuka pintu kamar utama, di sana kujumpai Fitri dalam matanya yang terbenam seakan mengadu padaku. Di sebagian wajahnya kutemukan luka memar seperti habis dihantam benda tumpul. Ini akan menjadi berita menarik di Harian Metropolis, seandainya ini bukan kasus yang melibatkan sahabatku. Tak akan kubiarkan media mana pun mencium kasus KDRT ini. Biarlah aku yang selesaikan kasus sahabatku itu.
Seorang lelaki pergokiku masuki rumah ini, wajahnya tak perna kulihat, ia begitu asing dipandanganku, pasti ia suami Fitri. Apa yang harus aku lakukan kini?
“Dasar maling!!” Tegurnya dalam Jawa yang kasar.
Ya Allah aku telah jadi pembunuh, ampunilah aku. Doaku dalam Qalbu.
Keesokan harinnya gempar memang menjangkit kampungku. Kabar terbunuhnya Randi, suami fitri semerbak tercium media. Aku berpura kaget menerima kabar itu. Dan memang benar aku tak disangkut-pautkan dengan kasus itu. Kuputuskan menjenguk Fitri di rumahnya, rupanya dia memang benar-benar tertekan. Kulihat di tangan Fitri terdapat surat kabar yang memberitakan terbunuhnya suaminya. Dengan nada rendah kutenangkan batin Fitri layaknya seorang psikiater. Dia hanya tersenyum melihat wajahku, aku tega melihatnya.
Aku masih terdiam di titik berdiriku, tak tahu harus lakukan apa di saat posisiku terdesak seperti ini. Dengan terpaksa kuambil gunting di atas meja dan kutusukkan gunting itu ke perut lelaki tersebut.
***
Untuk mengobati trauma di hati Fitri kuputuskan untuk gantikan posisi Randi. Menjadi suaminya. Jujur saja cinta memang terselip di antara persahabatan kami. Dan rencananya aku akan membawa raga sahabat kehidupanku itu ke Jakarta guna menghibur jiwanya yang labil.
Koran pagi mampir di beranda rumahku. Kuambil dan kubaca Koran ini. Harian Metropolis. Apa berita terbaru yang ditulis rekan-rekan redaksiku di sana. Kubaca di rubrik utama, sebuah berita yang membuat seisi tubuhku gempar tertulis di sana. Kasus seorang perempuan yang dianiaya suaminya terpahat di sana, namaku pun diseret-seret ke berita itu. Memberitakan kabar tentang Fitri yang dalam berita itu terdapat nama seorang redaksinya. Namaku. Aku telah bersumpah kepada diriku sendiri akan mengutuk media yang menuliskan media itu. Walaupun itu adalah media tempat aku menafkahi keluargaku.
Emosiku memuncak. Ku ambil handphone di saku belakang celanaku. Kupetualangi buku telefon hingga kutemukan nama seseorang disana. Bos. Itulah nama yang kutemukan di ponselku tanpa pikir panjang kucall nomor yang tertempel lekat dengan nama itu.
“Halo.” Sahut dari seberang.
“Halo Bos, aku Dani. Aku pustuskan mulai hari ini berhenti bekerja darimu.”
Buru-buru kututup telefonku dan seraya langsung kuhantamkan ke lantai bersama lembaran Harian Metropolis yang mulai saat ini bukan lagi tempatku mengais nasi. Sambil aku berteriak.
“Sialan!!!!”



*Santri kelas lll Intensif  C,  asal Lumajang.